Asal Mula Teologi Islam

Terbunuhnya utsman bin affan pada tahun 656 M, membawa banyak perubahan dalam dalam bidang potliti dan teologi.  Dalam bidang politik memecah umat islam kedalam dua golongan yaitu sunni dan Syi’ah, dan dalam perkembanganya ternyata bukan hanya dalam bidang politik saja bahkan dalam idang agama dan pemikiran. Dalam bidang teologi, masalah Utsman Bin Affan menimbulkan masalah iman dan kufur, masalah islam dan tidak islam seseorang.  Peperangan yang terjadi antara golongan Ali bin Abi Tholib dengan Mu’awiyyah bin Abi Sofyan yang di akhiri dengan jalan damai tidak di setujui oleh segolongan tetara Ali dengan dalih bahwa kemenangan telah di depan mata. Golongan ini akhirnya keluar dari barisan ali dan membentuk kekuatan sendiri yang dengan nama kaum Khowarij.

Perkembangan selanjutnya, masalah politik mereka kaitkan dengan masalah iman dan kufur, Masalah islam dan tidak islam. Dalam pendangan khowarij barang siapa yang tidak menentukan hukum sesuai dengan apa yang  diturunkan allah dalam al-Qur’an adalah dosa besar. Dan pembuat dosa besar adalah kafir, dalam arti telah keluar dari islam, yaitu murtad dan orang murtad harus dibunuh. Masalah perdamaian ali dan Mu’awiyah tidak menggunakan dasar islam (teologi islam) akan tetapi mengikuti tradisi kaum jahiliyyah. Dengan demikian menurut Khowarij ke-dua golongan ini kafir dan bukan mu’min. sedangan yang di sebut dosa besar adalah antara lain zina dan membunuh. Dalam perkembangan selanjutnya  orang yang mereka anggap islam adalah golonganya (Khowarij). Maka selain memerangi Ali, Mu’awiyah juga seluruh uamat islam yang tidak sefaham dengan teologi mereka.

Sebagai reaksi terhadap pandangan khowarij, lahirlah golongan murji’ah. Menurut murji’ah yang terpenting dalam soal iman dan kufur adalah pengakuan yang terdapat dalam iman dan hati, bukan perbuatan anggata tubuh yang di yakini oleh golongan khowarij.  Kalau pendapat khowarij perbuatan dapat menggilangkan iman di hati, sedangkan  golongan murji’ah perbuatan tidak berpangaruh terhadap iman. Masalah dosa besar di atangguhkan sampai hari perhitungan, jika di ampuni maka masuk surga dan jika tidak masuk neraka dulu kemudian masuk surga.

Pada abad pertengahan hijriyyah menjadi perbincangan hangat. Hasan  Al-Bashri seorang ulama’ besar dari irak, suatu hari mendapat perntanyaan dari seseorang yang mendengarkan kuliahnya,  belus sempat di jawab seorang peserta lain (Washil Bin ‘Atha’) menegaskan “ Pembuat dosa besar tidak mu’min juga tidak kafir” lalu ia meninggalam majlis dan mementuk majlis sendiri untuk mengembangakn pendapatnya.  Kata mu’min dalam pandangan Washil mengandung pujian dan pembuat dosa besar adalah bukan orang yang terpuji. Pembuat dosa besar bukan kafir karena masih mengakui kedua syahadat. Dosa besar yang dilakukan seseorang tidak bias di putuskan oleh orang lain, akan tetapi diserahkan oleh pembuat dosa besar itu sendiri, jika ia bertaubat dan taubat di terima maka masuk surge jika tidak bertaubat sampai ia mati maka akan masuk neraka suntuk selamnya.

Dari peristiwa inilah akan timbul aliran mu’tazilah, yang pada mulanya lahir dari reaksi dari faham-faham teologi yang di kemukakan olah Khowarij dan murji’ah. Untuk pembahasan Mu’tazilah insaaallah pada artikel selanjutnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: